Powered By Blogger

Kamis, 04 November 2010

Rencana Redominasi Rupiah Tahun 2013

Bookmark and Share

isi-bumi-kita.blogspot.com
Tanpa hiruk pikuk, Pemerintah RI mulai 18 Mei 2010, mengumpulkan dana untuk memodali proyek bernama ReDenominasi Rupiah, yaitu memangkas tiga nol angka dalam nominal rupiah, atau yang dulu dikenal sebagai Sanering Rupiah (Sumber: BI).

Peristiwa ini mengingatkan kita pada sanering 31 Desember 1965, saat Orde Lama - Soekarno memangkas nilai Rp 1000 menjadi Rp 1. Caranya: uang lama 'rupiah glabak, karena dicetak dalam lembaran besar' yang beredar, umumnya bernilai Rp 50, Rp 100, Rp 500, Rp 1000, Rp 5000 dan Rp 10.000 ditarik oleh Bank Indonesia, kemudian ditukar menjadi 5 sen untuk Rp 50, 10 sen untuk Rp 100, dan 50 sen untuk Rp 500, lalu Rp 1 untuk Rp 1000, Rp 5 untuk Rp 5000, serta Rp 10 untuk baru Rp 10.000 lama.

RENCANA REDENOMINASI RUPIAH: BERKAH ATAU BENCANA?

Bank Indonesia sebagai Bank Sentral di Republik Indonesia baru-baru ini mengeluarkan sebuah wacana yang mengundang pro dan kontra banyak pihak. Rupiah yang memang memiliki nilai uang rupiah memiliki tingkat yang lebih rendah dibandingkan nilai mata uang Negara lainnya. Contoh saja kepada Malaysia, harga sepotong ayam goring disana mungkin berkisar antara 1 hingga 2 ringgit. Namun, di Indonesia harganya bisa mencapai 5000 hingga 10000 rupiah.

Maka, hal inilah yang menyebabkan Bank Indonesia berpikir untuk memotong nilai rupiah tersebut. Menurut kabar yang beredar, nilai Rp 1000 akan dijadikan menjadi hanya Rp 1 saja. Menurut Rizal Ramli yang juga seorang pakar ekonomi, memang rencana ini akan menguntungkan beberapa pihak seperti kalangan menengah ke atas, karena mereka tidak perlu lagi membawa nominal yang besar untuk berbelanja memenuhi kebutuhannya. Namun di sisi lain ini akan merugikan rakyat kecil yang hanya diberikan kebahagiaan semu, padahal walaupun nilai mata uang rupiah dipotong toh tidak berpengaruh terhadap nilai barang itu sendiri.

Kita seharusnya mencontoh Jepang dan Cina yang pernah mengalami nasib serupa seperti kita, namun seiring berjalannya waktu dan memajukan Sumber Daya Manusianya maka nilai mata uang Negara mereka perlahan-lahan muli turun dengan sendirinya.

Denominasi kali ini adalah program yang akan memangkas tiga angka 0 dibelakang satuan uang. Uang Rp 1.000 akan menjadi Rp. 1. Begitu pula pecahan-pecahan yang lain, sehingga kemungkinan kita yang seumur-umur hanya melihat nilai sen di rekening, akan menggunakannya dalam kehidupan nyata.

Rencana denominasi ini sudah mulai direncanakan sejak tahun 1999 dan akan didanai dari Surat Utang Negara (SUN). Penyebab denominasi ini adalah untuk mencegah terbitnya nilai uang yang lebih besar karena tingginya inflasi nilai Rupiah di Indonesia.

Nah, tinggal kita tunggu saja apakah rencana ini akan benar-benar dijalankan oleh Bank Indonesia? Jika ya, maka anda yang bergaji sekitar Rp. 2.000.000,- saja akan hanya bergaji Rp. 2.000,- (Dengan catatan ketentuan memangkas tiga angka 0).

Denominasi Rupiah, kali ini didanai dari Surat Utang Negara (SUN). Penjualan SUN Denominasi Rupiah ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Setelah dana terkumpul dirasa cukup oleh pemerintah, maka sanering segera dimulai. Memang wacana sanering rupiah sudah lama muncul sejak Reformasi 1999, dan kini mendekati kenyataan. Rencananya Rp 1000 saat ini akan diganti dengan Rp 1 baru, tentu dengan gambar uang kertas yang nyaris serupa. Misalnya Rp 100.000 yang bergambar Soekarno-Hatta akan ditarik, dan ditukar dengan Rp 100 baru yang juga bergambar Soekarno-Hatta, seperti dulu ketika BI menarik uang plastik Rp 100.000 berbahan polymer gambarnya hanya dimodivikasi. Lembaran bergambar I Gusti Ngurah Rai yang bernominal Rp 50.000, kelak ditukar menjadi Rp 50. Begitu pula dengan rupiah pecahan lainnya, tetapi kali ini uang kertas Rp 1000 kemungkinan besar diganti dengan koin, jadi uang kertas terkecil nantinya Rp 2 baru bergambar Pangeran Antasari. Untuk uang logam, akan di mulai dari nominal 50 sen untuk mengganti Rp 500, dan Rp 1 untuk mengganti Rp 1000,-

ReDenominasi ini katanya untuk mencegah diterbitkannya rupiah dalam nominal yang lebih besar lagi akibat inflasi. Beberapa waktu yang lalu, memang dikuatirkan oleh berbagai pihak bahwa nominal dalam lembaran rupiah akan terus membengkak, bahkan hingga 7 digit, yaitu Rp 1.000.000. Kekuatiran ini diawali oleh rencana terbitnya Rp 200.000 dan Rp 500.000 pasca beredarnya uang kertas Rp 2000 pada tahun 2009 kemarin. Namun sayang, proyek denominasi rupiah kali ini pun tidak dibekali oleh pondasi yang kuat. Denominasi Rupiah justru dibiayai dari Surat Utang Negara (SUN), ini tentunya akan membebani rupiah kelak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog